Therapeutic Drug Monitoring (TDM) sering dipahami sebagai pemeriksaan kadar obat dalam darah. Namun, nilai klinis TDM tidak berhenti pada diperolehnya angka konsentrasi obat. Yang lebih penting adalah bagaimana hasil tersebut diinterpretasikan dalam konteks klinis dan diterjemahkan menjadi keputusan terapi.
Hal ini terutama penting pada pasien kritis. Perubahan fungsi ginjal, augmented renal clearance, acute kidney injury, penggunaan continuous renal replacement therapy (CRRT), perubahan volume distribusi, serta kondisi infeksi dapat menyebabkan paparan obat berubah secara cepat. Karena itu, pertanyaan klinisnya bukan hanya “berapa kadar obat pasien?”, tetapi “apa arti kadar tersebut bagi pasien ini, dan apa yang harus dilakukan?”
Di sinilah peran Dokter Spesialis Farmakologi Klinik (Clinical Pharmacology MD) menjadi penting.
Hasil TDM tidak dapat diinterpretasikan hanya dengan membandingkan angka dengan rentang terapi. Dokter membutuhkan clinical expertise untuk memahami konteks pasien secara menyeluruh: diagnosis, kondisi fisiologis, fungsi organ, perjalanan penyakit, terapi yang diberikan, potensi interaksi obat, target PK/PD, serta respons klinis pasien. Dalam artikel Gatti et al., yang dipublikasi di jurnal Critical Care tahun 2022, rekomendasi TDM juga mempertimbangkan lokasi infeksi, karakteristik patogen dan MIC, fungsi ginjal, CRRT, kondisi fisiopatologis, serta terapi lain yang diberikan.
Dengan kata lain, angka yang sama belum tentu memiliki arti yang sama pada setiap pasien. Clinical expertise diperlukan untuk menentukan apakah dosis perlu dinaikkan, diturunkan, dipertahankan, atau TDM perlu dilakukan kembali.
Pengalaman di Bologna menunjukkan pentingnya integrasi antara laboratorium dan farmakologi klinik. Setelah program TDM-guided Expert Clinical Pharmacological Advice diterapkan, aktivitas TDM meningkat 13,3 kali lipat. Pada pemeriksaan pertama, 61,7% terapi memerlukan rekomendasi penyesuaian dosis, dengan median turnaround time hanya 7,7 jam.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa TDM bukan sekadar layanan laboratorium. Laboratorium menghasilkan data, tetapi Dokter Spesialis Farmakologi Klinik menggunakan clinical expertise dan ilmu farmakologi klinik untuk mengubah data tersebut menjadi keputusan terapi yang individual, rasional, dan tepat waktu.
Pada akhirnya, keberhasilan TDM bukan hanya tentang mendapatkan kadar obat, tetapi tentang menggunakan informasi tersebut untuk memberikan terapi yang tepat bagi pasien yang tepat, pada waktu yang tepat.
Referensi: Gatti M, Cojutti PG, Bartoletti M, Tonetti T, Bianchini A, Ramirez S, et al. Expert clinical pharmacological advice may make an antimicrobial TDM program for emerging candidates more clinically useful in tailoring therapy of critically ill patients. Critical Care. 2022;26:178. doi:10.1186/s13054-022-04050-9.


