← Kembali ke Portal Artikel
📰 Berita

PERDAFKI Dorong Terapi Kelasi Timbal yang Presisi dalam International Lead Poisoning Prevention Week 2026

H
Humas
Redaksi PERDAFKI
📅 22 Oktober 2026⏱️ 4 Min Baca
#PERDAFKI#Sinergi#Toksikologi#Keracunan Timbal
PERDAFKI Dorong Terapi Kelasi Timbal yang Presisi dalam International Lead Poisoning Prevention Week 2026

Perhimpunan Dokter Spesialis Farmakologi Klinik Indonesia (PERDAFKI) turut berpartisipasi dalam kegiatan International Lead Poisoning Prevention Week (ILPPW) 2026 bertema “From Detection to Prevention: Bersama Melindungi Indonesia dari Pajanan Timbal”, yang diselenggarakan di Auditorium Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), Depok. Pada kegiatan ini, dr. Mario Abet Nego, Sp.FK menjadi perwakilan PERDAFKI.

Kegiatan yang dilaksanakan oleh RSUI bersama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan Yayasan Pure Earth Indonesia ini menjadi forum kolaborasi lintas disiplin untuk meningkatkan kesadaran, deteksi dini, pencegahan, dan penatalaksanaan dampak kesehatan akibat pajanan timbal.

PERDAFKI hadir bersama enam organisasi profesi lainnya, yaitu Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Perhimpunan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia (PERDOSSI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), dan Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia (PERDOKI).

Dalam forum diskusi “Hidden in Plain Sight: Lead Across Clinical Practice”, masing-masing organisasi profesi menyampaikan perspektif keilmuannya mengenai dampak pajanan timbal yang dapat melibatkan berbagai organ dan kelompok pasien.

PERDAFKI Menekankan Pentingnya Toksikokinetik dalam Terapi Kelasi Timbal

Dalam tanggapannya mengenai intervensi kelasi timbal, perwakilan PERDAFKI menekankan bahwa tata laksana keracunan timbal perlu didasarkan pada pemahaman karakteristik toksikokinetik timbal dan farmakokinetik obat kelasi yang digunakan.

Timbal dapat masuk ke tubuh terutama melalui saluran pencernaan dan inhalasi. Absorpsi gastrointestinal timbal cenderung lebih tinggi pada anak-anak dan pada kondisi puasa. Kekurangan zat besi maupun kalsium juga dapat meningkatkan kerentanan terhadap absorpsi timbal. Oleh karena itu, penghentian sumber pajanan dan perbaikan status nutrisi menjadi bagian penting dari tata laksana. Suplementasi kalsium atau besi diberikan sesuai indikasi, terutama apabila terdapat asupan kalsium yang tidak adekuat atau defisiensi besi.

Setelah diserap, timbal didistribusikan ke dalam darah, jaringan lunak, dan tulang. Sebagian besar timbal yang terakumulasi dalam tubuh orang dewasa tersimpan di tulang, dengan waktu paruh yang dapat mencapai bertahun-tahun hingga puluhan tahun.

Kondisi tersebut memiliki implikasi klinis penting. Kadar timbal dalam darah tidak selalu mencerminkan keseluruhan jumlah timbal yang tersimpan di dalam tubuh. Perubahan kadar timbal darah selama pemantauan dapat dipengaruhi oleh respons terhadap terapi, pajanan yang masih berlangsung, maupun perpindahan kembali timbal dari jaringan dan tulang ke sirkulasi darah.

Dalam perspektif farmakologi klinik, keadaan ini menegaskan pentingnya interpretasi hasil pemeriksaan kadar timbal darah secara menyeluruh, dengan mempertimbangkan riwayat pajanan, kondisi klinis pasien, serta kemungkinan terjadinya peningkatan kembali kadar timbal setelah terapi.

Kelasi Timbal Memerlukan Pendekatan Farmakoterapi yang Individual

PERDAFKI juga menyoroti peran obat kelasi dalam penanganan kasus keracunan timbal yang memenuhi indikasi klinis.

Agen kelasi bekerja dengan mengikat ion timbal dan membentuk kompleks yang dapat meningkatkan eliminasi timbal dari tubuh, terutama melalui ginjal. Beberapa agen yang digunakan dalam tata laksana keracunan timbal antara lain succimer, calcium disodium EDTA, dimercaprol, dan D-penicillamine.

Masing-masing agen memiliki karakteristik farmakokinetik yang berbeda, terutama dalam hal absorpsi, distribusi jaringan, metabolisme, dan ekskresi. Perbedaan tersebut harus menjadi pertimbangan dalam pemilihan obat, khususnya pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal yang berpotensi mengalami hambatan eliminasi serta peningkatan risiko efek samping terapi.

Dengan demikian, keputusan pemberian kelasi tidak hanya didasarkan pada tingginya kadar timbal darah. Kondisi klinis, beratnya toksisitas, fungsi organ, dan karakteristik masing-masing obat perlu dinilai untuk memperoleh manfaat terapi yang optimal dengan risiko yang serendah mungkin.

PERDAFKI turut menyoroti tantangan ketersediaan obat kelasi di Indonesia yang masih terbatas. Hal ini menjadi perhatian penting karena kasus keracunan timbal berat dapat membutuhkan terapi segera. Penguatan sistem pengadaan, jejaring rujukan, dan pengembangan pusat ketersediaan obat kelasi atau antidot merupakan langkah strategis yang perlu dipertimbangkan untuk meningkatkan kesiapan pelayanan kesehatan.

Memperkuat Komitmen Bersama Pencegahan Keracunan Timbal

Selain diskusi ilmiah, kegiatan ILPPW 2026 juga mengagendakan Seruan Bersama Organisasi Profesi Kesehatan untuk Pencegahan Keracunan Timbal. Komitmen lintas profesi ini diarahkan pada peningkatan kewaspadaan tenaga kesehatan, penelusuran riwayat pajanan lingkungan dan pekerjaan, penguatan deteksi dini dan rujukan, serta edukasi mengenai pengendalian sumber pajanan.

Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum peluncuran program Technical Support to the Government and Formal Industries on ULAB Recycling Sector, yang bertujuan mendukung penguatan pengendalian risiko pajanan timbal, khususnya pada sektor daur ulang aki bekas.

Melalui partisipasinya, PERDAFKI menegaskan pentingnya peran dokter spesialis farmakologi klinik dalam mendukung tata laksana keracunan timbal yang rasional, aman, dan berbasis bukti ilmiah. Pendekatan farmakoterapi yang individual perlu berjalan bersama upaya pencegahan pajanan dan kolaborasi multidisiplin.

Keberhasilan penanganan keracunan timbal bukan hanya ditentukan oleh kemampuan menurunkan kadar timbal darah melalui terapi kelasi, tetapi juga oleh keberhasilan menghentikan sumber pajanan dan mencegah terjadinya keracunan kembali.

Partisipasi PERDAFKI dalam ILPPW 2026 diharapkan menjadi bagian dari penguatan kolaborasi nasional untuk melindungi masyarakat Indonesia dari dampak pajanan timbal, sejalan dengan semangat “From Detection to Prevention”.

Dokumentasi dan Referensi

Rekaman kegiatan: YouTube ILPPW 2026, tanggapan PERDAFKI mulai menit 1:18:41

Pedoman ilmiah: WHO Guideline for Clinical Management of Exposure to Lead (2021)

Pedoman Indonesia: Kemenkes RI, Pedoman Nasional Tata Laksana Akibat Pajanan Timbal pada Anak dan Ibu Hamil (2024)

Baca Artikel Menarik Lainnya

Lihat Semua ➔
TDM Bukan Sekadar Mengukur Kadar Obat: Pentingnya Keahlian Dokter Spesialis Farmakologi Klinikberita

TDM Bukan Sekadar Mengukur Kadar Obat: Pentingnya Keahlian Dokter Spesialis Farmakologi Klinik

Therapeutic Drug Monitoring (TDM) sering dipahami sebagai pemeriksaan kadar obat...

📅 22 Agustus 2026
Mengenal Lebih Dekat Layanan Klinik Farmakologi RSUIartikel

Mengenal Lebih Dekat Layanan Klinik Farmakologi RSUI

Seiring dengan perkembangan ilmu kedokteran dan semakin kompleksnya kasus penyak...

📅 10 Agustus 2026
Menguatkan Terapi Pasien Kritis: PERDAFKI Berkontribusi di RESPINA 2026berita

Menguatkan Terapi Pasien Kritis: PERDAFKI Berkontribusi di RESPINA 2026

Perhimpunan Dokter Spesialis Farmakologi Klinik Indonesia (PERDAFKI) kembali ber...

📅 25 Juli 2026